Jumat, 05 April 2013

Saat aku mutusin untuk benar-benar sendiri


Jika boleh memilih, di usia dewasa nanti aku ingin tinggal sendiri
  memilih untuk mengurus diriku sendiri
  dan hanya bersahabat dengan Sepi
   __Cerry

Selama ini seperti kebanyakan anak-anak lain di muka bumi. Aku tinggal (menumpang) bersama kedua orang tuaku. Dan aku harus melakukan itu, karna selain posisiku sebagai seorang anak, ketika itu aku tak punya pilihan.

Dan di hari ini aku menemukan pilihan itu. Aku sudah memutuskan untuk menjadi seorang penulis. Yang kufikirkan hanya ingin jadi penulis, akan terus menulis, menulis dan akan menulis sampai mati. Aku tak tau kenapa, aku tak bisa menjelaskan kenapa ketertarikannku pada dunia menulis bisa sebesar ini.  Tapi menulis sudah menjadi sahabat terdekatku sejak masih jaman sekolah dulu. Dan aku tak ingin berpisah dengan sahabat terdekatku saat ini. Karna kenyataannya aku tak memiliki seorangpun sahabat dekat semenjak tamat sekolah.

Lantas apa hubungannya keinginanku menulis dengan aku ingin sendiri.
Ya, aku sudah memikirkan ini sebelumnya. Selama ini aku hidup bersama orang tua. Aku satu satunya anak perempuan yang ada di rumah ini. Bapak dan ibuku adalah orang tua pekerja. Hampir seminggu penuh mereka meninggalkanku sendiri dirumah hanya untuk mencari uang dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Memang aku punya seorang adik laki-laki. Tapi adikku juga jarang dirumah, karna sibuk dengan sekolah dan sibuk dengan teman-temannya. Alhasil, aku sudah terbiasa sendiri di rumah dan menikmati semua Fasilitas yang ada di rumah sendiri.  Entahlah, aku tak pernah jenuh, dan tak pernah merasa kekurangan apapun sejauh ini. Aku suka menonoton film, mendengarkan musik, chatting, Menggambar, menciptakan aransement lagu yang semrawut dan sesekali aku memposting blog.

Memang semua yang kulakukan menggunakan fasilitas elektronik yang ada dirumah, seperti VCD, Laptop, hanfone dan piano. Memang karna orang tuaku yang giat bekerja, aku tak pernah merasa kekurangan apapun, dalam-hal-materi. Benda-benda elektronik yang memenuhi rumahku inipun terbilang masih 'baru beli', meskipun beberapa diantaranya sudah lama terbeli dan masih terjaga dengan awet. Tapi satu hal yang selalu buatku merasa kurang, yaitu aku selalu merasa 'Kesepian'.
Mungkin ketika aku terbiasa sendiri dirumah. Saat aku merasa mau-tak-mau-berteman-dengan-sepi. Lama-lama aku jadi merasa akrab dan tak mau jika sepi meninggalkanku.
Sungguh, aku ingin tetap merasa sepi dan sendiri seperti ini. Aku merasa kondisi seperti ini adalah kondisi terbaik untuk Menulis. Berhubung genre tulisan yang aku suka adalah tulisan yang ngegalau dan sedih-sedih. Sebuah tulisan yang bisa buat orang-orang (khususnya aku sendiri) menangis bombay saat membacanya. Aku rasa aku akan tetap suka pada genre tulisan ini. Akhirnya aku tetap memilih untuk menulis dalam sepi. Ya, Seperti yang kukatakan di atas, mungkin akan susah menulis jika hidupku kembali penuh sesak manusia yang ramai. Kondisi itu pasti menghilangkan rasa sepi dan galauku.

Terlepas dari fasilitas yang kunikmati dirumah ini. Bukan berarti aku sudah menjalani hidup nyaman. Seperti yang kukatakan aku satu-satunya anak perempuan di rumah ini. Dan sudah menjadi tanggung jawabku merawat rumah ini agar tetap terlihat bersih. Ya, semua pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas 'ibu rumah tangga', dirumah ini aku yang mengerjakannya. Mulai dari yang kecil seperti menyapu, sampai hal-hal yang melelahkan seperti mencuci baju dan masak.setiap hariAku selalu melakukan pekerjaan rumah sendiri, saat semua penghuni rumah sibuk berAktifitas diluar. Karna tak bisa komplen, aku mengerjakan pekerjaan itu setiap hari tanpa bosan. Akupun sadar hanya aku yang tak punya kegiatan diluar rumah.  So, mau tak mau.
Terlebih jika melihat keadaan mama. Ya, bisa dikatakan mamaku tak pandai mengerjakan pekerjaan rumah (selain memasak). Dia begitu giat mencari uang bekerja sebagai guru PNs, tapi semuanya berbeda ketika berada di rumah. Mama yang kukenal dirumah adalah seorang ibu pemalas yang sering marah-marah. Aku sabar, aku  sudah-cukup sabar, dan lama-lama aku sudah terbiasa sabar menghadapi sikap mama. Ya, menghadapi sifat mama yang semuanya selalu ingin sempurna, tapi tak mau melakukannya sendiri.
 Seperti jika ingin makan, mama selalu ingin piringnya bersih tanpa lemak, jika ada lemak sedikit saja maka mama akan ngomel panjang lebar  tentang aku yang tak bisa kerja. Kalau sudah begitu aku akan diam. Mungkin mama tidak tau anaknya ini juga manusia yang tak semuanya bisa dikerjkan sempurna, atau mungkin mama tidak pernah mengaca pada dirinya sendiri  yang bahkan mama lupa kapan terakhir kali Mencuci piring. Kadang ingin rasanya aku melawannya "kalau mau bersih tanpa lemak, mama cuci aja sendiri". Ah, tapi tidaklah. Dulu aku pernah melakukannya dan ternyata hal itu hanya memperpanjang masalah. Ooh, aku juga baru saja melakukannya tapi itu dalam hati. Dan dari luar aku akan tetap diam menghadapi sikap mama. Aku ingat kapan terakhir mama ngomelin aku, dan itu adalah tadi pagi. Mungkin besok pagi mama akan kembali ngomelin aku.
 Ya, bisa dikatakan aku dan mama tidak memiliki kedekatan apapun, kami bahkan jarang berkomunikasi atau bertukar cerita. Setidaknya cerita antara ibu dan anak. Dan hal ini kadang semakin menambah keinginan dan tekadku untuk tinggal sendiri.

Lalu apa yang bisa kulakukan ?
Begini, kemarin aku mendengar ada lowongan kerja di bandara penerbangan. Dan aku harap setelah mengirim lamaran kerja ke sana aku akan diterima. Dan aku sangat berharap lamaranku diterima, karna kemungkinan besar aku akan tinggal jauh dari rumah jika aku memiliki pekerjaan itu. Jika jauh dari rumah, setidaknya aku bisa Kos atau ngontrak di rumah orang untuk hidup sendiri. Aku yakin aku bisa mengurus diriku sendiri dengan baik, karna selama ini juga aku mengurus diriku sendiri. Oh tidak juga, aku bahkan mengurus semua keluargaku. Setiap hari aku yang mencucikan baju mereka, menyetrika baju kerja mereka dan aku juga yang memasak makanan untuk mereka. So, apa sulitnya mengurus baju dan pakaianku sendiri. Aku rasa itu bukan beban jika aku memang harus hidup dalam Sepi.
Masalah fasilitas, sepertinya aku hanya butuh ponsel dan sebuah laptop. Selebihnya aku bisa hidup kok tanpa fasilitas2 lain. Itu saja sudah membuatku cukup. Aku bahkan tak terlalu butuh penanak nasi. Karna sudah lama aku tak makan nasi dan sudah hampir lupa rasa nasi. Sungguh !

Tapi kembali pada pernyataan 'manusia hanya bisa berharap, tapi semua kembali pada ketentuan Tuhan'
Saat ini aku Cuma bisa berharap lamaranku diterima. Agar aku bisa bekerja mencukupi diri sendiri dan yang lebih penting agar aku bisa hidup sendiri.
Tapi jika lamaran kerjaku kali ini Ditolak kembali. Seperti lamarankerja pertamaku
 mungkin ini belum rezeki. Rezekiku   mungkin ada di tempat lain. Dan aku yakin banyak jalan Menuju Roma.
Seiring kedewasaanku, dan seiring bertumbuhnya kemandirianku. Mungkin tanpa memiliki pekerjaan pun. Orang tuaku akan mengizinkanku untuk pergi dari rumah ini. Pergi dari tempat yang membuatku nyaman akan fasilitasnya dan pergi dari tempat yang membuatku gusar  akan sikap keluargaku. Yang pasti pergi untuk menikmati dan merasakan hidup susah sendiri. Tanpa ada siapapun selain aku dan tulisanku.